Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo
Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur — Tempat bermukim yang indah, tenteram, dan harmonis.
Kepala Desa Baleasri
Kepala Desa Baleasri • Penanggung Jawab Pemerintahan
Sejarah Desa Baleasri
Catatan sejarah pembentukan dan babad wilayah Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan.
Letak & Gambaran Umum
Kurang lebih 4 km di sebelah selatan Kota Magetan terdapat sebuah desa yang cukup luas kawasannya, dengan suasana relatif tenang karena didukung oleh penduduk yang agamis — hampir seluruh warganya beragama Islam. Itulah Desa Baleasri.
Dahulu Desa Baleasri masuk wilayah Kecamatan Magetan. Namun karena adanya pemekaran wilayah kecamatan, kini Desa Baleasri resmi menjadi bagian dari Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan.
Batas-Batas Wilayah Desa Baleasri
Lima Tokoh/Kyai Cikal Bakal Babad Desa
Berdasarkan penuturan sejarah Bapak Darmo Sukir (alm.), mantan Kamituwo Baleasri selama 43 tahun, terdapat lima tokoh/kyai cikal bakal yang pertama kali membuka lahan dan membabat wilayah Baleasri:
Babad Tiga Wilayah Asal
1. Kelurahan Ngemplak / Ngambaan
Meliputi wilayah Karang, Wareng, dan Jajar. Dahulu kawasan ini berupa hutan angker dengan pepatah kuno "janmo moro janmo mati, sato moro sato mati" (siapa pun yang datang akan tertimpa musibah). Kawasan yang sangat wingit ini kemudian "ditambak" (ditulak balak) oleh Kyai Jamaluddin sehingga menjadi aman dan tidak angker lagi. Dari istilah TAMBAK → Ngambak, kawasan ini dinamakan Ngambakan, dengan Lurah pertama bernama Ismangil.
2. Kelurahan Bendo Sewu / Duwet Sewu
Meliputi Mendak, Titang, Gambiran, Oro-oro, Bendosewu/Duwetsewu, Manding, dan Dawung.
- Dukuh Mendak: Dibabat oleh Kyai Bagus Reso, bangsawan Surakarta pengikut Perang Diponegoro yang berobat di wilayah ini setelah pendhok/mendhak kerisnya hilang (terucap "Mendhak keris saya hilang!").
- Dukuh Duwetsewu: Berasal dari banyaknya pohon buah Duwet yang lebat dan disukai warga serta burung.
- Dukuh Manding: Dibabat oleh Kyai Rawun yang senantiasa mendekatkan diri (Jawa: sumandhing) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa saat membabat hutan.
3. Dukuh Ngeleng & Makam Jabung
Cikal bakal Dukuh Ngeleng adalah R. Wongso Wijoyo (Broto Kusumo / Kyai Ageng Ngeleng). Beliau membabat dan membenahi hutan secara mengagumkan dalam waktu sangat singkat (Jawa: mung sa' lengan → Ngeleng). Beliau dimakamkan di Makam Jabung Ngeleng, yang hingga kini menjadi pusat ziarah silaturahmi tahunan kerabat PAKEM JABUNG NGELENG. Meliputi wilayah Krukungan, Bandhut, Bangak, dan Slungguh.
Penggabungan Menjadi Desa Baleasri
Pada tahun 1887, ketika Bupati Magetan dijabat oleh Raden Aryo Kertohadinegoro (terkenal dengan sebutan Gusti Ridder / Gusti Lider), dua kelurahan dan satu dukuhan tersebut digabungkan secara resmi menjadi satu desa dan diberi nama BALEASRI.
Daftar Kepala Desa / Lurah Baleasri Dari Masa ke Masa
| No | Nama Kepala Desa / Lurah | Masa Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Toredjo | s.d. 1921 |
| 2 | Partodirjo | 1921 – 1961 |
| 3 | Moh. Amin | 1961 – 1990 |
| 4 | Moh Suroto | 1990 – 2006 |
| 5 | Emy Hariono | 2007 – 2020 |
| 6 | Juremi | Sekarang (Periode 2025) |
Profil Demografi & Potensi Desa 2025
Sumber Isian Prodeskel (Profil Desa & Kelurahan) Ditjen Bina Pemdes Kemendagri per Januari 2025.
Padi Sawah 110 Ha (Produksi 6 Ton/Ha), Jagung 25 Ha (Rp 525 Juta), dan Kacang Tanah 25 Ha (Rp 160 Juta).
1.301 Angkatan Kerja, 730 Bekerja Penuh, 450 Bekerja Tidak Tentu, 350 Ibu Rumah Tangga, 90 Pelajar.
8 Unit Posyandu Aktif (38 Kader), 700 KK Pelanggan PAM Air Bersih, 0 Kematian Ibu Melahirkan.
21 RT Pos Siskamling Aktif, 30 Anggota Hansip/Linmas, 100% Realisasi Pajak Bumi & Bangunan (PBB).